Flash news!
Beranda arrow Editorial arrow Pendidikan di Sekolah Dasar
Pendidikan di Sekolah Dasar Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 26 May 2011
Pendidikan di Sekolah Dasar yang Memprihatinkan

Apa sebenarnya tujuan akhir dari pendidikan?
Jawabnya tentu memberi kesempatan kepada peserta didik agar dapat meraih kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Karena pendidikan adalah sebuah proses maka yang sangat membutuhkan perhatian adalah awal dari proses tersebut.

Di dalam pendidikan formal, proses awal ini dimulai dari Sekolah Dasar. Sekolah Dasar (SD) adalah pondasi paradigma pendidikan yang seharusnya dibuat sekokoh mungkin dimana anak SD mengawali proses belajar dan memahami berbagai ilmu dasar, mulai dari yang bersifat ilmu pasti sampai yang bersifat ilmu sosial dan humaniora. Itulah sebabnya penanaman terhadap kedisiplinan sifat-sifat luhur dan pembentukan karakter serta rasa kebangsaan dan kebanggaan menjadi manusia Indonesia perlu dikenalkan dan dibiasakan di usia dini. Namun demikian apa yang kita lihat sampai saat ini? Sekolah Dasar justru terasa disepelekan oleh Pemerintah.

Guru di Sekolah Dasar yang seharusnya mempunyai tugas mulia meletakkan pondasi dari seluruh ilmu dasar tersebut rata-rata tidak mampu melakukan tugasnya. Ini karena mereka tidak dibekali dengan cukup modal dasar yang diperlukan untuk mendidik anak di Sekolah Dasar. Di dalam penempatan tenaga guru masih disusupi KKN sehingga kualitas tidak lagi menjadi dasar penentuan tempat mengajar. Pemerintah juga kurang menyediakan sarana dan prasaran yang layak untuk Sekolah Dasar.

Berkali-kali kita mendengar, membaca, dan melihat sekolah yang roboh karena bangunannya dikorup, sekolah yang mewah di luar tetapi lantainya dari tanah, sekolah tanpa MCK, sekolah seperti gudang tanpa ventilasi dan penerangan, dsb. Boro-boro ada perpustakaan! Peralatan baca tulisnya saja sangat minim. Timbul tanda tanya kapan terwujud generasi baru seperti yang digambarkan para tokoh pada waktu berkampanye untuk meraih kekuasaan, bila pendidikan bukan menjadi prioritas nyata?

Kalau kualitas guru SD tidak memenuhi syarat, sedang kondisi fisik sekolah bermasalah yang jelas tanpa perpustakaan dan tanpa pustakawan! Biasanya yang dipakai sebagai alasan klise oleh pemangku kekuasaan karena jumlah SD yang sangat-sangat banyak yang harus ditangani, luasnya wilayah Tanah Air dengan geografi yang terdiri dari ribuan pulau yang sulit dijangkau karena infrastruktur transportasinya sangat jauh dari memadai. Kalau alasan klise dan normatif itu dipakai sebagai excuse terus-menerus jangan harapkan cita-cita kita para peduli pendidikan untuk membentuk bangsa yang sejahtera dan bermartabat terwujud.

Noblesse oblige / para pemangku kekuasaan memiliki tanggung jawab moral dan hutang budi kepada rakyat (sekarang masih jauh panggang dari api). AS