Flash news!
Beranda arrow Berita Perpustakaan & Buku arrow Talkshow Membaca Bangkitkan Karakter Bangsa
Talkshow Membaca Bangkitkan Karakter Bangsa Print E-mail
Rabu, 25 Mei 2011, Perpustakaan Nasional RI mengadakan talkshow “Membaca Bangkitkan Karakter Bangsa“ dalam rangka memperingati ulang tahun Perpustakaan Nasional RI yang ke-31 yang jatuh pada tanggal 17 Mei 2011, menghadirkan pembicara Utut Adianto (anggota komisi X DPR RI), Dra. Sri Sularsih, M.Si (Ka. Perpusnas RI), Slamet Raharjo (Sutradara/Aktor) dan Wulan Guritno (Artis).

Dalam pidato pembukaan Kepala Perpusnas mengatakan bahwa tugas Perpusnas adalah menetapkan kebijakan, pembinaan perpustakaan dan membina kerjasama dalam pengelolaan perpustakaan. Program dan kegiatan yang telah dilakukan adalah mengembangkan koleksi nasional lebih lengkap, bantuan stimulasi mobil perpustakaan keliling (MPK), Mobil Elektronik Keliling (Pusteling), Kapal perpus-takaan Keliling serta memprioritaskan pembangunan perpustakaan digital dan perpustakaan desa.

Dialog interaktif selama + 90 menit, dengan moderator Felisita Leonita (penyiar radio Bahana FM) cukup menarik. Informasi yang dapat kami ambil selama mengikuti talkshaw tersebut antara lain: Slamet Raharjo, mengatakan “Membaca tidak sebatas karya tulis saja tetapi juga dari pengalaman hidup. Perpustakaan harus bisa mengikuti perkembangan.”

Utut mengatakan bahwa 55% Sekolah Dasar belum mempunyai perpustakaan, maka jika ditemukan 20% siswa hobi membaca itu adalah kunci keberhasilan. Beliau juga mengatakan bahwa menyediakan buku adalah pekerjaan gampang, sekarang bagaimana Perpustakaan Nasional mampu membuat program yang cespleng agar orang suka membaca.

Ibu Sri Sularsih memang piawai menerobos komisi X sehingga mendapat kucuran dana untuk perpustakaan nasional cukup lumayan. Pertanyaan kami sebagai organi-sasi masyarakat di bidang perpustakaan yang telah bertahun-tahun ikut serta berkiprah memasyarakatkan kegemaran membaca melalui perpustakaan dan mencari dana ope-rasional secara mandiri misalnya dari sponsor CSR sebuah perusahaan, itupun kalau ada, apakah mungkin organi-sasi semacam kami KPI ini bisa men-dapat bantuan dana operasional dari DPR RI? Mudah-mudahan dalam rapat dengan ko-misi X Ibu Sri Sularsih berkenan memperjuangkan kelangsungan organisasi independent bidang perpustakaan agar bisa menjadi mitra kerjasama.

Ka. Perpusnas menyampaikan bahwa ada 3 konsep mengembangkan kebiasaan membaca
1.     Dari Satuan Keluarga
2.     Dari Satuan Pendidikan. Sarana strategis untuk gemar membaca dengan menyediakan sarana membaca.
3.     Dari Satuan Masyarakat misalnya dengan pencanangan Indonesia gemar membaca.

Untuk  menanamkan kebiasaan membaca, Slamet Raharjo memberikan contoh bahwa di Yogyakarta dulu pernah ada gerakan nekad dan gila-gilaan. Pukul 5 sore sampai pukul 8 malam masyarakat tidak boleh menyalakan TV karena waktu ini harus dimanfaatkan untuk belajar. Situasi kondusif ini berdampak adanya kedekatan masyarakat pada buku terutama para pelajar. Berbeda dengan sekarang pada jam anak harus belajar malah nonton sinetron apalagi yang tidak berbobot dan berdampak negatif pada kepribadian anak, tidak kenal sopan santun baik dalam berbahasa maupun bertingkah laku.

Lain lagi pendapat Utut bahwa ada gerakan Kegiatan Belajar secara sporadis yang dicanangkan Anis Barswedan  2  x 15 ‘ ternyata tidak mengubah sistem. Bagaimana caranya lagi, apakah harus dicambuk agar masyarakat itu mau membaca?
Wulan Guritno men-ceritakan bahwa mena-namkan kebiasaan membaca sebaiknya sejak usia dini, bahkan dia telah memulainya sejak mengandung anaknya. ***